Bagaimana Strategi Digital Marketing Menghasilkan 1 Milyar Rupiah dalam 1 Bulan (Hint: Gerakan Sosial)

Hati-Untuk-Ammar-Website

Terkisahkan, ada seorang bayi, anak seorang guru SD di kota Depok, yang menderita penyakit hati yang langka. Kulit dan matanya menguning, kotorannya memutih, dan perutnya membuncit. Nama penyakitnya atresia bilier, dialami 1 dari 10.000 anak.

Ia harus segera dioperasi dalam dua bulan, khawatir kondisinya semakin memburuk. Namun biaya operasi yang mencapai 900 juta rupiah adalah jumlah yang sangat banyak bagi orang tua Ammar yang sederhana. Bahkan BPJS serta bantuan banyak pihak selama ini belum mencapai separuh jumlah yang dibutuhkan.

Takdir menentukan bahwa datanglah sekumpulan relawan yang tergerak membantu orang tua Ammar. Gerakan #HatiUntukAmmar lahir, dengan cara mengumpulkan donasi yang amat tidak biasa. Selain dengan metode offline seperti biasa, mereka juga menggunakan strategi digital marketing yang mereka kuasai untuk meningkatkan awareness dan mengumpulkan dana untuk Ammar.

Hasilnya, target 900 juta rupiah tercapai hanya dalam waktu 1 bulan! Isu ini juga berhasil diangkat ke berbagai media nasional.

Di postingan ini, saya berbincang lewat email dengan M. Maula Nuruddin Al Haq, salah seorang inisiator gerakan ini, yang merupakan seorang pemain aktif di dunia internet marketing. Saya ingin menggali khususnya mengenai strategi digital marketing yang digunakan dalam gerakan Hati untuk Ammar.

Lanjutkan membaca Bagaimana Strategi Digital Marketing Menghasilkan 1 Milyar Rupiah dalam 1 Bulan (Hint: Gerakan Sosial)

Pentingnya Menentukan Tujuan Bisnis Sebelum Membuat Website

EP goes mobile - check it out!

Sebelum membuat website, apa yang Anda PERTAMA KALI pikirkan?

“Saya mau buat website seperti apa ya?”

“Seperti apa desain & tampilan yang menarik?”

“Apa ya fitur-fitur yang akan bermanfaat bagi pengunjung?”

“Di mana hosting dan domain yang murah tapi bagus?”

“Pakai WordPress atau Magento ya?”

Berdasarkan pengalaman saya menjadi web consultant & developer freelance beberapa tahun terakhir ini, 80% website klien tidak diurus lagi setelah selesai dibuat. Setahun setelah website dibuat, saya mengunjunginya lagi, dan taraaa, persis 100% plek sama dengan saat saya serah terimakan dulu. Investasi jutaan rupiah terbuang begitu saja.

Well, blame me. Dulu saya belum punya kemampuan untuk menganalisis dan mengukur performa website, sehingga sebelum memulai membuat website, saya hanya bertanya, “bapak mau membuat website seperti apa?”

Bila waktu bisa diulang kembali, saya akan memulai dengan pertanyaan, “apa tujuan/objektif Bapak membuat website ini?” 

Kemudian saya akan lanjutkan dengan pertanyaan, “menurut bapak, apa indikator sukses dan return on investment dari website ini?”

Lalu apa?