Mengenal Search Engine Optimization Lewat Cerita Pendek yang Mudah Dipahami

Pak Budi sedang kelimpungan. Pemilik perusahaan agen properti ini memandang angka sales yang selama tiga bulan terakhir stagnan. Ia tahu ia harus mencari cara pemasaran rumah yang kekininian. Ya, dia sedang mencari metode pemasaran baru yang efektif.

Pak Budi sadar bahwa saat ini orang-orang banyak yang mencari rumah di Internet. Makanya sejak tahun lalu ia sudah memiliki website yang menampilkan rumah-rumah yang ia jual. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mendatangkan pengunjung ke websitenya tersebut.

Ia tahu bahwa pengguna Internet banyak yang menggunakan situs pencari seperti Google untuk mencari rumah di lokasi yang mereka inginkan. Pak Budi cukup paham, dari berbagai diskusi dengan Bowo, CMO-nya, bahwa penting untuk tampil di Google. Oleh karena itu ia telah mencoba memasang iklan di Google dengan program Google AdWords-nya. Tapi lama kelamaan biaya iklannya semakin bertambah, sementara hasil yang didapatkan stagnan saja.

Ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya muncul di iklan Google saja, tapi harus muncul di halaman pertama, kalau bisa posisi pertama, dari hasil pencarian di Google. Tapi bagaimana caranya, ia tidak tahu pasti. Ia hanya pernah mendengar sekilas mengenai SEO, Search Engine Optimization, tapi tidak tahu persis apa itu sebenarnya.

Setelah bicara dengan Bowo sang CMO, Pak Budi memintanya mencari orang yang memahami SEO. Pahamlah Budi bahwa ia harus menggunakan jasa SEO agency. Dari rekomendasi Bowo, Pak Budi mengundang Iwan, strategist dari agency SEO XYZ menjelaskan metode SEO yang digunakan.

Di pertemuan pertama mereka, Pak Budi siap untuk belajar memahami mengenai SEO.

“SEO itu singkatan dari Search Engine Optimization. Tahukah Bapak apa yang dioptimasi dalam SEO?” tanya Iwan.

Pak Budi menggeleng.

“Coba bayangkan Pak Budi yang sedang berada di kantor Pak Budi sendiri. Pak Budi menginginkan, jika ada wanita yang masih single bertanya ke resepsionis kantor, ‘siapa lelaki paling ganteng di kantor ini?’, nama Pak Budi keluar dari mulut sang resepsionis. Apa yang perlu Pak Budi lakukan?”

Pak Budi bingung. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena ia sudah punya anak dan istri!

Melihat Pak Budi bingung, Iwan menjelaskan, “pertama, Pak Budi perlu betulan ganteng. Pak Budi perlu mandi, sisiran, pake minyak wangi, pakai baju yang bagus. Tapi masalahnya, Pak CMO juga melakukan hal yang sama. Ia ingin disebut juga sebagai orang yang paling ganteng di kantor. Hal apa lagi yang perlu dilakukan oleh Pak Budi?”

“Pak Budi tentu harus direkomendasikan oleh teman-teman Pak Budi. Sekretaris kantor harus bilang ke resepsionis, ‘eh Pak Budi ganteng lho’, bendahara kantor juga, banyak orang harus merekomendasikan bahwa Pak Budi ganteng. Cerita ini adalah analogi hal-hal yang perlu dioptimasi dalam SEO,” jelas Iwan.

“Pertanyaan paling awal “siapa lelaki paling ganteng di kantor ini?” adalah sesuatu yang harus dijawab sebelum melakukan SEO. Kita harus tahu sebenarnya apa sih yang dibutuhkan oleh target market kita. Jangan-jangan wanita single sebetulnya mencari lelaki kaya, bukan ganteng? Rugi dong, kita sudah capek-capek berusaha agar dianggap orang paling ganteng di kantor? Dalam SEO, proses mencari kebutuhan target market inilah yang dinamakan keyword research.”

“Kemudian, proses Pak Budi mandi, sisiran, dan seterusnya, mempercantik diri sendiri, adalah proses yang disebut on-page optimization. Kita harus membuat website kita adalah menjadi website nomor 1 paling oke yang menjawab kebutuhan target market. Caranya adalah dengan membuat konten yang menjelaskan apa yang dicari target market tadi, membuat website kita mudah digunakan, bisa diakses dari mobile phone, dan sebagainya.”

“Terakhir, proses Pak Budi meminta rekomendasi dari orang-orang lain, adalah proses yang disebut off-page optimization. Dalam SEO, bentuk rekomendasi ini adalah link yang berada di website orang lain, yang saat diklik mengarahkan pengunjung ke website kita. Kita harus mempromosikan website kita, agar website orang lain bersedia memberikan link ke website kita sendiri,” tutup Iwan setelah panjang lebar.

“Oke, saya sudah paham tentang SEO & cara kerjanya. Sekarang, apa yang akan kamu lakukan agar website saya bisa nomor 1 di Google?”, tukas Pak Budi tidak sabar.

“Baik, Pak,” Iwan menjawab kalem.

“Langkah pertama, adalah Pak Budi harus tahu kata kunci apa yang target market Pak Budi ketikkan di mesin pencari saat mencari rumah dijual di Internet. Apakah Pak Budi tahu?”

“Hmm, saat saya melihat-lihat rumah untuk saya sendiri tahun lalu, saya mengetikkan ‘rumah dijual di depok’.”

“Sebentar saya cek ya pak, berapa pencarian untuk kata kunci tersebut,” Iwan beralih ke laptopnya sebentar. “Rata-rata ada 3,600 pencarian per bulannya Pak!”

“Ada satu kata kunci lain yang cukup banyak pencariannya, yaitu ‘rumah murah di depok’, sebanyak 2,400 pencarian rata-rata per bulannya. Ada juga ‘perumahan murah di depok’ dengan 2,400 pencarian rata-rata per bulannya.”

“Oke, apakah berarti saya harus membuat website saya optimal untuk semua kata kunci tersebut? Karena saya tidak hanya menjual rumah murah saja, ada loh rumah mewah yang saya jual. Juga saya menjual rumah kampung, tidak hanya di perumahan saja.”

“Betul sekali Pak, Bapak harus fokus, karena itulah keunggulan yang website Bapak miliki kan?”

“Berarti website saya harus dioptimasi untuk kata kunci ‘rumah dijual di depok’ ya!” Sambut Pak Budi semangat.

“Betul sekali Pak!”

“Nah tapi bagaimana cara mengoptimasi website saya?”

“Masih ingat cerita saya, analogi bahwa Pak Budi ingin jadi yang paling ganteng di kantor? Nah sekarang saya harus menjadikan website Pak Budi sebagai website yang paling ganteng, yang akan dipilih pengunjung yang mencari rumah di Depok. Apa keunggulan yang Pak Budi miliki yang tidak dimiliki kompetitor lain?”

“Dari yang saya lihat, kompetitor lain seperti Rumah123.com, Rumah.com, hanya memiliki listing rumah dijual sebanyak 100 – 200 rumah di Bandung, Surabaya, dan Depok. Tapi kami memiliki 200 – 300 rumah lho. Lebih banyak pilihan dari mereka!” Jawab Pak Budi semangat.

Kekuatan perusahaan Budi yang tidak dimiliki perusahaan lain saingannya adalah ada di inventori yang amat lengkap. Tidak ada satu rumah dijual pun di Depok yang perusahaannya tidak jualkan. Sales-nya memang sangat agresif, setiap hari tenaga sales-nya berkeliling pelosok kota Depok, Bandung, dan Surabaya untuk mencari rumah yang dijual, lalu mengontak pemiliknya, untuk dijualkan oleh perusahaannya. Ia percaya diri, bahwa inventorinya paling lengkap, karena rata-rata jumlah rumahnya 50% lebih banyak dibanding para kompetitor.

“Saya juga melihat, kompetitor hanya memiliki kalkulator simulasi KPR. Sementara saya, bisa langsung mengajukan aplikasi KPR online ke bank tersebut!” Tambah Pak Budi.

“Wah itu keren Pak! Fitur-fitur itu harus dijual dan ditampilkan dengan baik di website, agar pengunjung mudah menggunakan fitur-fitur itu, dan search engine juga mudah dalam mengunjungi website Pak Budi.”

“Karena kita ingin menampilkan website Pak Budi untuk pencarian ‘rumah dijual di depok’, kalimat tersebut harus ada di judul websitenya. Gunakan kalimat yang menjual, yang membuat orang mau mengklik saat melihat di Google. misalnya ‘Rumah Dijual Di Depok, Paling Lengkap dengan Simulasi KPR”

“Wah, bagaimana cara memasukkan kalimat itu di sana?” Tanya Pak Budi.

“Untuk langkah ini, kita harus banyak berkolaborasi dengan developer/programmer website, karena merekalah yang akan mengubah website secara langsung.”

“Selain itu, kalimat itu harus ada di dalam isi website Pak Budi. Jelas, karena Pak Budi menjual rumah di depok, jadi kalimat tersebut harus terlihat jelas di dalam halaman website Pak Budi”.

“Langkah terakhir dalam mengoptimasi ini, adalah mendapatkan rekomendasi dari website lain, alias off-page optimization.”

“Saya tidak mengerti bagian ini, boleh dijelaskan?” Tanya Pak Budi bingung.

“Sebetulnya ada banyak sekali cara untuk mendapatkan rekomendasi alias

 

backlink

 

dari website lain. Tapi saya akan menunjukkan dua cara paling mudah yang paling umum dilakukan oleh para SEO: dari forum online, dan dari blog.”

“Boleh jelaskan lebih lanjut?”

“Yap tentu saja Pak. Di forum online, seperti Kaskus di Indonesia, atau Pantip di Thailand, kan banyak sekali pengunjungnya ya. Jika kita ‘eksis’ di sana, orang akan sadar bahwa kita ada. Terus Pak Budi juga bisa mencari blog yang isinya menulis seputar rumah, karena berhubungan dengan website Pak Budi. Betul kan?”

“Oh mengerti, jadi saya harus promosikan website saya di sana kan?”

“Nah, tidak boleh promosi atau iklan terang-terangan Pak! Tidak ada yang suka sesuatu yang

 

hardsell

 

, ya kan? Jadi Pak Budi harus membuat konten yang memberi manfaat bagi orang lain, yang di dalamnya ‘diselipkan’ link ke website Pak Budi sendiri.”

“Hmm?” Pak Budi mulai bingung.

“Contohnya begini Pak. Bapak bisa membuat tulisan, misalnya tentang: ‘10 perumahan di Depok yang hanya berjarak 5 menit dari stasiun kereta api’. Di salah satu paragrafnya, Pak Budi menuliskan ‘jika ingin melihat berbagai pilihan rumah yang dijual di Depok, silakan lihat website saya ini’. Saat membaca tulisan ini, pembaca akan merasa bahwa tulisan ini membantu mereka dalam memilih perumahan di Depok. Di tulisan, orang-orang tidak merasa dikirimi iklan, tapi dikirimi sesuatu yang bermanfaat. Dan saat mereka ingin tahu lebih lanjut tentang rumah yang dijual di Depok, barulah mereka bisa mengklik link yang ada di tulisan tersebut, dan masuk ke rumah kita. Begitu Pak,” jelas Iwan sambil tersenyum.

“Oke, saya cukup paham. Oh iya, tadi tentang blog yang topiknya berhubungan dengan website kita, boleh dijelaskan lebih lanjut?”

“Coba Pak Budi bayangkan, sedang masuk ke website tentang handphone, misalnya Pulsa.co.id. Nah di dalam website tersebut, ada artikel ‘10 daerah bebas banjir di kota Depok’, misalnya. Apakah tema artikel tersebut nyambung dengan tema websitenya?”

“Pasti tidak dong!”

“Itu dia, makanya kita harus memilih blog yang temanya sejenis dengan website kita. Karena pengunjung yang datang ke website kita dari website mereka adalah pengunjung berkualitas Pak. Mereka bisa menjadi calon pembeli rumah yang Pak Budi jual.”

“Oo begitu. Nah, pertanyaan saya berikutnya, adalah bagaimana bisa, melakukan hal seperti ini akan meningkatkan ranking kita?” Pak Budi masih bingung ternyata.

“Begini Pak. Kita harus tahu cara kerja mesin pencari. Singkatnya, begini. Mesin pencari memiliki robot yang pekerjaannya merayapi (

 

crawling

 

) dari halaman-halaman yang ada di web. Saat mereka masuk ke sebuah halaman, mereka akan melakukan scanning isi website tersebut, lalu menilai halaman tersebut tentang apa, apa saja kata-kata yang ada di halaman tersebut. Saat robot itu menemukan link ke website X misalnya, mereka akan pergi ke website X tersebut, sambil memberi tanda bahwa website ini memberikan rekomendasi ke website X itu. Bayangkan saat robot mesin pencari menemukan bahwa banyak website memberikan link ke website X, artinya website X itu sangat direkomendasikan dan dipercaya bukan? Itulah yang terjadi, mesin pencari akan menganggap website X itu website yang penting, sehingga rankingnya naik.”

“Secara umum, yang kami lakukan dalam SEO, keyword research, on-page, dan off-page,  itu semua berdasarkan prinsip cara kerja mesin pencari. Lakukan off-page secara rutin selama beberapa bulan, nanti lama kelamaan website Pak Budi akan naik!”

“Oooh, begitu ya..” Pak Budi mulai paham.

“Butuh nafas yang panjang untuk melakukan SEO: butuh waktu, butuh tenaga, dan butuh biaya, butuh kesabaran. Lebih lagi karena kata kunci yang diincar Pak Budi ‘rumah dijual di depok’ itu punya pesaing yang SEO-nya kuat juga: Rumah123.com, Rumah.com, jadi ini amat menantang untuk Pak Budi. Apakah Pak Budi sudah siap budget-nya supaya saya bisa bantu bapak?” Iwan tersenyum.

“Ah, kamu bisa saja!” Pak Budi tertawa lepas.

Iklan

Bagaimana Menurutmu? Komentar Ya! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s